Tragedi Saham di Balik Megahnya Apple: Kisah Daniel Kottke dan "Kekejaman" Steve Jobs

Bagi banyak orang, nama Apple identik dengan kesuksesan luar biasa dan kekayaan melimpah. Namun, di balik angka-angka triliunan dolar itu, tersimpan sebuah luka lama yang dialami oleh Daniel Kottke, karyawan nomor 12 Apple sekaligus sahabat dekat Steve Jobs sejak masa kuliah. Saat Apple melantai di bursa saham (IPO) pada tahun 1980 dan mencetak jutaan jutawan baru dalam semalam, Kottke justru ditinggalkan dengan tangan hampa.

Mengapa seorang teman yang menemani Jobs dari perjalanan spiritual di India hingga merakit komputer pertama di garasi justru tidak mendapatkan apa-apa? Mari kita bedah sejarah kelam ini.

1. Persahabatan yang Bermula dari Perjalanan Spiritual

Daniel Kottke dan Steve Jobs bukan sekadar rekan kerja. Mereka adalah teman dekat di Reed College. Pada tahun 1974, keduanya melakukan perjalanan spiritual ke India untuk mencari pencerahan. Mereka tidur di lantai yang sama, berbagi makanan, dan memiliki kedekatan emosional yang sangat dalam.

Ketika Jobs dan Steve Wozniak mulai merakit Apple I di garasi rumah orang tua Jobs, Kottke ada di sana. Ia adalah teknisi yang menyolder papan sirkuit, membantu pengiriman, dan menjadi bagian dari detak jantung Apple sebelum perusahaan itu menjadi raksasa. Secara logika, ia adalah orang yang seharusnya paling pertama masuk dalam daftar penerima saham.

2. Hari yang Mengubah Segalanya: IPO Tahun 1980

Tahun 1980 adalah momen bersejarah. Apple go public, dan itu adalah IPO terbesar sejak Ford Motor Company pada 1956. Ribuan karyawan Apple tiba-tiba menjadi kaya raya. Namun, nama Daniel Kottke tidak ada dalam daftar penerima opsi saham (stock options).

Alasannya sederhana namun menyakitkan: Steve Jobs menolak memberikan selembar saham pun padanya.

Jobs memiliki alasan yang sangat kaku. Secara administratif, Kottke dikategorikan sebagai "teknisi per jam," bukan insinyur (engineer) tetap dengan kontrak profesional. Di mata Jobs yang ambisius dan perfeksionis, hanya mereka yang dianggap memiliki kontribusi intelektual krusial yang layak mendapatkan bagian dari perusahaan. Bagi Jobs, Kottke hanyalah tenaga kerja bantuan, bukan arsitek masa depan Apple.

3. "I Will Give Him Zero": Sisi Dingin Steve Jobs

Drama ini mencapai puncaknya ketika Rod Holt, salah satu eksekutif awal Apple, mendatangi Jobs untuk membujuknya. Holt merasa iba melihat Kottke yang sudah bekerja keras sejak awal namun diabaikan.

Holt bahkan menawarkan sebuah kesepakatan: "Steve, jika kau memberikan sejumlah saham kepada Dan, aku juga akan memberikan jumlah yang sama dari bagianku."

Jawaban Jobs sangat melegenda dalam sejarah hitam Silicon Valley. Dengan wajah datar, ia menjawab, "Silakan saja kalau kau mau memberinya milikmu. Tapi aku akan memberinya nol." Kalimat ini menjadi bukti betapa dinginnya Jobs dalam urusan bisnis, bahkan terhadap teman seperjalanannya sendiri.

4. Skandal Majalah Time: Retaknya Hubungan Secara Permanen

Ada faktor personal lain yang membuat Jobs semakin enggan membantu Kottke. Sekitar waktu IPO, seorang jurnalis dari Time Magazine sedang menyusun profil tentang Steve Jobs. Jurnalis tersebut mewawancarai Kottke, dan secara tidak sengaja, Kottke mengonfirmasi kebenaran bahwa Jobs memiliki seorang putri bernama Lisa Brennan-Jobs yang saat itu tidak diakui oleh Jobs.

Bagi Jobs, ini adalah pengkhianatan privasi. Ia merasa Kottke telah menusuknya dari belakang dengan membeberkan rahasia pribadinya ke media nasional. Hal ini memperkuat keputusan Jobs untuk benar-benar memutus "rezeki" Kottke di Apple.

5. Juru Selamat Bernama Steve Wozniak

Melihat ketidakadilan ini, Steve Wozniak—pendiri lainnya yang memiliki hati sangat lembut—merasa sangat terganggu. Wozniak tidak bisa tidur memikirkan rekan-rekan seperjuangannya di garasi yang tidak mendapatkan apa-apa sementara ia sendiri memiliki harta berlimpah.

Wozniak kemudian meluncurkan apa yang disebut sebagai "Woz Plan". Ia memutuskan untuk menjual sekitar $10 juta saham pribadinya kepada sekitar 40-80 karyawan awal (termasuk Daniel Kottke dan Bill Fernandez) dengan harga yang sangat murah (sekitar $5 per lembar).

Berkat kebaikan hati Wozniak, Daniel Kottke akhirnya mendapatkan bagian dari "kue" Apple. Meskipun jumlahnya tidak sebanyak yang seharusnya ia dapatkan jika Jobs memberikan opsi saham secara resmi, saham pemberian Wozniak tersebut cukup untuk membuat Kottke hidup mapan dan membeli rumah pertamanya.

6. Warisan dan Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Kisah ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan besar seringkali menuntut tumbal berupa hubungan manusia. Daniel Kottke tetap bekerja di Apple hingga tahun 1984 dan ikut membidani lahirnya Macintosh. Namanya bahkan terukir di dalam casing Macintosh pertama, berdampingan dengan Steve Jobs dan tim lainnya.

Namun, secara emosional, hubungan Kottke dan Jobs tidak pernah benar-benar pulih. Hingga Jobs meninggal dunia pada tahun 2011, ada jarak yang tidak pernah bisa dijembatani antara dua orang yang dulu pernah bermimpi bersama di India tersebut.

Daniel Kottke mungkin tidak menjadi miliarder seperti Jobs, tetapi ia adalah saksi hidup dari masa-masa paling murni di Apple. Ia adalah pengingat bahwa di balik teknologi yang kita gunakan sekarang, ada keringat orang-orang yang hampir dilupakan sejarah karena kerasnya ambisi seorang pemimpin.

Penutup

Jika Steve Jobs adalah otak dan ambisi Apple, maka Steve Wozniak adalah hati nuraninya. Dan Daniel Kottke? Ia adalah simbol dari loyalitas yang seringkali tak berbalas dalam dunia korporat yang kejam. Untungnya, dalam drama ini, kebaikan hati Wozniak berhasil memberikan akhir yang sedikit lebih manis bagi seorang teman yang terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar