Senin, 17 Juli 2017

Alasan Aplikasi Telegram Dipakai Teroris

Kumparan - Bukan rahasia lagi bahwa Telegram telah menjadi aplikasi favorit kelompok ekstremis teroris sebagai sarana untuk berkomunikasi antar-kelompok seperti ISIS.

Pertanyaan berikutnya yang kemudian muncul setelah membaca kalimat pembuka di atas, tentu saja adalah, kenapa mereka pilih Telegram? Kenapa bukan WhatsApp? Kenapa bukan Line yang sama-sama punya fitur bot? Kenapa?


Telegram dikenal menganut sistem yang menjunjung tinggi privasi penggunanya dengan keamanan tingkat tinggi. Selain pesan yang terenkripsi dan dapat terhapus sendiri dengan pengaturan waktu, Telegram juga memungkinkan penggunanya memanfaatkan fitur bot untuk membuat kanal mandiri guna menyediakan informasi.

Bot dan Kanal

Seorang pengguna Telegram bisa bikin sebuah menu di kanal (channel) buatannya. Pengguna bisa mengatur respons apa yang harus diberikan jika ada anggota (member) kanal mengklik sebuah tombol. Jika member meminta sebuah dokumen cara merakit senjata, maka bot itu bisa memberikan dokumen panduannya yang tentu saja itu bisa dilakukan setelah melewati tahap pengaturan lebih dulu. Jadi, si pemilik kanal tidak perlu menjawab satu per satu permintaan dari member.

Dalam sebuah kanal, seorang member juga bisa menerima informasi broadcast dari si pemilik kanal. Kemudian, ada juga fitur Secret Chat.

Menemukan akun pengguna atau kanal publik bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, atau konten negatif lainnya, bisa dibilang cukup mudah. Walaupun harus diakui, mereka kadang suka muncul dan tenggelam begitu saja tanpa jejak.

Ada dua kemungkinan soal ini, bisa jadi kanal atau akun itu telah dihapus oleh pemiliknya sendiri, atau bisa juga mereka kena penghapusan oleh manajemen Telegram yang belakangan mengaku agresif bersih-bersih konten terorisme.

Segala kehebatan Telegram itu yang membuat mereka para teroris sulit terlacak oleh pemerintah atau badan keamanan negara mana pun. Kalau pun kegiatannya di dalam aplikasi terdeteksi, data mereka tetap aman karena Telegram tentu tidak akan membuka privasi penggunanya begitu saja. Hal serupa mungkin juga akan dilakukan WhatsApp atau iMessage dari Apple yang menjunjung tinggi privasi.

Sikap Telegram yang menjaga privasi penggunanya ini yang kemudian dipermasalahkan. Di negara asalnya sendiri, Rusia, mereka diancam akan diblokir jika tidak mengindahkan permintaan pemerintah setempat untuk memberikan data informasi pengguna terduga teroris penyerangan di kota St. Petersburg pada April lalu.

Antara Blokir dan Bersih-bersih

Banyaknya kanal publik yang kontennya negatif di Telegram juga dipandang masalah di mata pemerintah Indonesia. Jika Rusia baru sekedar mengancam, Indonesia sudah melakukan pemblokiran terhadap layanan pesan itu walau sebatas Domain Name System (DNS) dan membuat versi web tak bisa dibuka, dan versi aplikasi ponsel masih normal.

Kendati dipandang tidak kooperatif dan keras kepala, namun bukan berarti Telegram tinggal diam membiarkan platform-nya tercemari dengan konten negatif. Menurut pengakuan pendiri dan CEO Telegram, Pavel Durov, mereka setiap bulannya aktif melakukan penghapusan dan pemblokiran ribuan kanal publik yang terindikasi teroris. Aktivitasnya ini selalu dipublikasikan di kanal @isiswatch di Telegram.

"Telegram adalah aplikasi yang sangat terenkripsi dan pribadi, tapi kami bukanlah teman dari teroris. Faktanya, setiap bulan kami memblokir ribuan kanal publik ISIS dan mempublikasikan hasilnya di @isiswatch. Kami dengan gigih terus mencegah penyebaran propaganda terorisme secara efisien, dan selalu menerima ide untuk menjadi lebih baik dalam hal ini," aku Durov.

Klaim sistem keamanan yang sangat terenkripsi itu mungkin telah menyulitkan aparat intelijen dalam melacak peredaran pesan di Telegram. Tetapi secanggih-canggihnya produk buatan manusia, pasti ada cara untuk membobolnya dan aparat bisa leluasa mengintip pesan. iPhone yang diklaim aman oleh Apple pun bisa dibobol FBI untuk mengintip pesan dari pelaku penembakan di San Bernadino, California, AS.

Bagi Durov, blokir Telegram bukanlah jalan terbaik dalam memerangi teroris. Jika ditutup, mereka tinggal beralih ke layanan lain pesaing Telegram yang juga menawarkan metode enkripsi end-to-end.

"Jika Anda ingin mengalahkan terorisme dengan cara blokir, Anda harus memblokir Internet," ujar Durov seperti dikutip Reuters.

Sumber: kumparan.com

Disclaimer: Artikel ini sudah mendapatkan izin dari pihak Kumparan.com untuk ditampilkan di sini. Keabsahan artikel menjadi tanggung jawab Kumparan.com.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar