Minggu, 12 Januari 2020

Belajar Menghadapi Krisis dari Pendiri Royal Golden Eagle, Sukanto Tanoto

Setiap pelaku bisnis pernah mengalami masa-masa sulit. Di masa-masa seperti inilah komitmen seorang pengusaha diuji. Apakah ia layak untuk mencapai posisi yang lebih tinggi atau tidak, semua tergantung pada bagaimana ia menghadapi krisis. Namun saat mencari role model dalam menghadapi krisis, Sukanto Tanoto adalah salah satu contoh terbaik.

Gambar dari Tanoto Foundation

Sukanto Tanoto memulai bisnis pertamanya di tahun 1966. Dimulai dengan meneruskan bisnis keluarga, ia terus menggeluti jalan wirausaha hingga mendirikan Royal Golden Eagle pada tahun 1973. Meski kini RGE dikenal sebagai salah satu kerajaan bisnis terbesar di Indonesia, perjalanan Sukanto Tanoto untuk mencapai posisinya saat ini tidak selalu berjalan mulus. Saat krisis Asia melanda di tahun 1997 dan banyak perusahaan gulung tikar, perusahaan yang dipimpinnya juga hampir mengalami nasib yang sama.

Terjerat Hutang Hingga Rp 2,1 Triliun

Sejak didirikan, Royal Golden Eagle terus mengalami perkembangan. Berawal dari industri kayu lapis, Sukanto Tanoto terus melebarkan sayap bisnisnya dan membangun perusahaan lainnya. Beberapa industri mulai dimasuki. Sebut saja industri kelapa sawit, pulp dan kertas serta masih banyak lagi.

Namun meski Royal Golden Eagle telah bertransformasi menjadi raksasa dalam dunia bisnis, hal tersebut tak membuatnya kebal dari krisis ekonomi. Hal ini terbukti saat perekonomian Indonesia terpuruk dan mengalami krisis parah di tahun 1998. Sama seperti perusahaan lain di masanya, perusahaan yang dipimpin Sukanto Tanoto juga mengalami guncangan yang sangat hebat.

Jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar membuat grup bisnis Royal Golden Eagle jatuh tersungkur. Hutang yang ditanggung mencapai Rp 2,1 triliun. Kondisi ini pun memaksa konglomerasi tersebut untuk menjadi pasien BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional).

Seakan masih belum cukup, Sukanto Tanoto kembali mendapat ujian yang lebih berat. Perusahaan bubur kertasnya, yakni PT Inti Indorayon Utama terpaksa harus ditutup pada tahun 1999 karena kondisi keuangan yang semakin sulit dan protes masyarakat atas limbah yang dihasilkan.

Pantang Menyerah, Kunci Keberhasilan Sukanto Tanoto Lewati Krisis

Krisis pada tahun 1998 menguras kekayaan Sukanto Tanoto. Meski demikian, ia tidak ingin menyerah pada keadaan dan berhenti berusaha. Ia pun mulai mengubah strategi bisnisnya. Berawal dari sini jugalah, diversifikasi yang lebih luas mulai ia lakukan.

Membangun komunitas sambil melakukan ekspansi dilakukan. Sukanto Tanoto juga membuka hutan untuk tanaman industri. Langkah ini pun terbilang sukses. Terbukti, APRIL Group yang merupakan salah satu unit bisnis Royal Golden Eagle mampu berkembang menjadi produsen pulp dan kertas terbesar di dunia.

Tidak berhenti di situ, Sukanto Tanoto terus mengembangkan bisnisnya dan merambah sektor-sektor lain seperti properti dan energi. Demi mewujudkan bisnis yang berkelanjutan, ia juga melebarkan sayap ke luar negeri dengan mendirikan pabrik Rayon di provinsi Jiangxi, Cina. Langkah ini diambil sebagai respon atas lahirnya peluang dalam bidang viscose rayon.

Setelah Cina, Brazil menjadi negara berikutnya tempat Sukanto Tanoto menanamkan investasinya. Di sini, ia mengakuisisi perkebunan eucalyptus yang kemudian disusul dengan pabrik pulp.

Bertahan dalam berbagai kondisi telah menjadi visi Sukanto Tanoto dalam menjalankan bisnis. Visi ini pun tertanam dalam setiap unit bisnis yang dibangunnya. Tidak hanya itu, ia juga menilai bahwa bisnis harus mampu memberikan kebaikan bagi masyarakat dan negara.

Sukanto Tanoto juga menyadari akan pentingnya kelestarian lingkungan bagi perusahaan berbasis alam. Hal ini pun ditunjukkan lewat sepak terjang grup Royal Golden Eagle dengan mempraktekkan manajemen dan operasional bisnis yang ramah lingkungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar